BERITA | Public Pembaharuan: (1 bulan yang lalu) | dibaca: 32 kali
Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026 – Anggota Komisi IV DPR RI
Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menjadi narasumber
dalam program TVR 17 TVR Parlemen untuk membahas langkah antisipasi dampak El
Niño terhadap ketahanan pangan nasional. Wawancara dilakukan seusai Rapat
Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian dan Badan Pangan
Nasional yang membahas realisasi anggaran, perkembangan harga pangan, serta
kesiapan pemerintah menghadapi ancaman kekeringan.
Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa realisasi anggaran
Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional secara umum masih berada pada
jalur yang direncanakan. Namun, persoalan yang lebih mendesak adalah ancaman El
Niño terhadap produksi pangan dan kenaikan harga sejumlah bahan pangan pokok di
berbagai daerah. Meskipun pemerintah menyampaikan bahwa stok pangan nasional
berada dalam kondisi tinggi, kenaikan harga pangan, terutama beras, kedelai,
dan minyak goreng, masih terjadi di sebagian besar kabupaten dan kota di
Indonesia.
Menurut Prof. Rokhmin, rencana mitigasi dan adaptasi El Niño
yang disampaikan pemerintah secara normatif terlihat cukup baik. Namun,
pelaksanaan di lapangan belum menunjukkan langkah antisipasi yang cepat,
konkret, dan terukur. Salah satu kelemahan utama adalah belum optimalnya upaya
pemanenan air hujan sebelum memasuki puncak musim kemarau.
Peringatan mengenai potensi El Niño telah disampaikan sejak
beberapa bulan sebelumnya. Karena itu, pemerintah seharusnya telah membangun
dan merehabilitasi embung, memperbanyak tempat penampungan air hujan,
memperbaiki jaringan irigasi, membersihkan saluran air, serta memastikan
ketersediaan air bagi kawasan-kawasan produksi pangan sebelum hujan berakhir.
Keterlambatan menjalankan langkah tersebut dapat meningkatkan risiko
kekeringan, gagal tanam, gagal panen, penurunan produktivitas, dan kenaikan
harga pangan.
“Pemerintah seharusnya memanen air hujan sejak awal melalui
pembangunan embung, penampungan air, dan revitalisasi jaringan irigasi. Jangan
menunggu kekeringan terjadi, baru kemudian bergerak,” tegas Prof. Rokhmin.
Selain pengelolaan air, pemerintah perlu menyiapkan varietas
tanaman pangan dan hortikultura yang lebih tahan terhadap kekeringan, suhu
tinggi, serta perubahan pola musim. Kesiapan benih adaptif harus disertai
penyesuaian kalender tanam, pemetaan wilayah rawan kekeringan hingga tingkat
kabupaten dan kecamatan, optimalisasi pompanisasi secara tepat sasaran,
penyediaan bantuan benih ulang, serta penguatan pendampingan kepada petani.
Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa pengalaman El Niño
sebelumnya harus menjadi pelajaran penting. Ketika ancaman perubahan iklim
dianggap ringan dan mitigasi tidak dilakukan secara serius, dampaknya dapat
berlangsung hingga tahun berikutnya dan memaksa Indonesia meningkatkan impor
pangan dalam jumlah besar. Pada 2024, Indonesia harus mengimpor beras sekitar
4,5 juta ton setelah menghadapi dampak El Niño kuat pada tahun sebelumnya.
Kondisi serupa tidak boleh kembali terjadi karena akan melemahkan kedaulatan
dan ketahanan pangan nasional sekaligus membebani keuangan negara.
Ancaman El Niño juga berkaitan erat dengan meningkatnya
risiko kebakaran hutan dan lahan. Prof. Rokhmin mendorong pemerintah daerah,
terutama provinsi yang secara historis rawan karhutla seperti Riau, Sumatera
Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, untuk menetapkan status siaga
atau darurat sesuai kondisi objektif di lapangan.
Penetapan status tersebut penting untuk memberikan landasan
hukum dan operasional bagi pengerahan sumber daya pemerintah pusat dan daerah.
Dengan status kesiapsiagaan yang jelas, BNPB, BMKG, Kementerian Kehutanan,
Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta masyarakat
dapat lebih cepat mengerahkan sarana, prasarana, personel, anggaran, dan teknologi
untuk mencegah serta menanggulangi karhutla.
Pencegahan karhutla harus dilakukan sebelum titik api meluas
melalui patroli terpadu, pemantauan titik panas, pengelolaan tata air di
kawasan gambut, penyediaan sumber air, pembangunan sekat bakar, edukasi
masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan secara sengaja.
Kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem dan kesehatan masyarakat, tetapi
juga mengganggu pertanian, distribusi pangan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan
masyarakat di wilayah terdampak.
Prof. Rokhmin menegaskan bahwa menghadapi El Niño tidak
cukup hanya dengan menyusun rencana di atas kertas. Pemerintah harus bekerja
secara preventif, terpadu, berbasis data, dan tepat waktu. Koordinasi antara
BMKG, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Bulog, Kementerian
Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan, BNPB, pemerintah daerah, perguruan
tinggi, dunia usaha, serta kelompok tani harus diperkuat dari tingkat pusat
hingga desa.
Ketahanan pangan hanya dapat dijaga apabila negara mampu
memastikan ketersediaan air, melindungi lahan pertanian, menyediakan benih
adaptif, menjaga produktivitas petani, mengendalikan harga, memperlancar
distribusi pangan, serta mencegah kebakaran hutan dan lahan. Antisipasi harus
dilakukan sejak dini agar El Niño tidak kembali menyebabkan krisis produksi,
lonjakan harga, peningkatan impor, dan penurunan kesejahteraan petani serta
masyarakat Indonesia.
Link Youtube:
Editor: admin111 Published: Friday, 17 July 2026
You're in the right place! Just drop us your cv. How can we help?